Pembangunan Dinding Laut jakarta Untuk Memerangi Banjir

by Oktober 16, 2014
Rendering of the Garuda project in Jakarta. Image by consortium NCICD, design KuiperCompagnons

Rendering of the Garuda project in Jakarta. Image by consortium NCICD, design KuiperCompagnons

Jakarta akan membangun dinding laut bernilai miliaran dolar Amerika untuk memerangi banjir dan mencegah Jakarta tenggelam, karena kondisi saat ini permukaan tanah di kota Jakarta mengalami penurunan lebih dari 5 inchi setiap tahunnya.

Tapi ada ketakutan bahwa projek itu akan gagal dikarenakan budaya korupsi yang masih merajalela di Indonesia.

35-kilometer dinding laut di Teluk Jakarta di sekitaran lepas pantai Utara, adalah pusat dari sebuah proyek yang akan menelan biaya hingga 40 milyar dolar Amerika dengan perkiraan waktu pengerjaan sekitar lebih dari 30 tahun. Hal ini juga termasuk reklamasi lahan untuk 17 pulau baru.

Seluruh projek tersebut akan membentuk bentuk Garuda – burung mitos yang simbol nasional Indonesia.

Tujuan utama projek ini adalah mencegah banjir, dan diharapkan lebih dari satu juta penduduk Jakarta akan berpindah, tinggal dan bekerja di pulau-pulau baru tersebut sehingga membantu mengurangi tekanan di kota Jakarta saat ini.

Projek ini secara resmi telah dimulai awal Oktober lalu dan dijalankan oleh pemerintah Indonesia dengan bantuan dari para ahli dari Belanda.

Menko Perekonomian Chairul Tanjung berkomentar pada acara peluncuran pekan lalu, mengatakan bahwa perbedaan pendapat dengan pemerintah selanjutnya dapat membuat proyek ini mundur dari jadwal.

Banyak yang mempertanyakan beberapa pendekatan yang dilakukan untuk melaksanakan projek ini dan berargumen bahwa projek ini tidak akan mencegah tenggelamnya Jakarta, sementara korupsi juga merupakan masalah besar, dengan pejabat yang seringkali memberi tender kepada perusahaan yang memberi imbalan suap besar kepada mereka.

Jakarta telah lama dilanda banjir selama musim hujan, ketika hujan tropis menyebabkan sungai-sungai meluap dan membanjiri sistem drainase yang tidak memadai, memaksa puluhan ribu harus mengungsi dari rumah mereka.

Namun sejak tahun 2007, kekhawatiran baru muncul dengan lingkungan kumuh yang tergenang oleh air laut pasang yang naik melewati batas tanggul laut di Jakarta Utara, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan menjadi bukti terjadinya penurunan permukaan tanah yang parah di beberapa daerah.

Populasi Jakarta dengan cepat telah bertambah menjadi sekitar 10 juta jiwa, konsumsi air tanah unutk kebutuhan air minum telah menyebabkan tanah menyusut dan mengalami penurunan – masalah yang sama terjadi di kota-kota pesisir lainnya, seperti Ho Chi Minh City dan Bangkok.

Bagian utara pesisir Jakarta, yang dibangun di atas tanah liat lunak, telah mengalami tingkat penurunan sekitar 14 sentimeter per tahun, yang berarti Jakarta akan berada di beberapa meter di bawah permukaan air laut dalam beberapa dekade ke depan.

Penurunan ini juga akan menyebabkan 13 sungai di Jakarta mungkin tenggelam di bawah permukaan laut dan berhenti mengalir, meningkatkan risiko genangan.

Setelah banjir 2007, yang memaksa ratusan ribu penduduk mengungsi dari rumah mereka, pemerintah telah mencanangkan beberapa rencana sementara dengan memperkuat tanggul-tanggul yang telah ada.

Pekerjaan akan dimulai pada dinding utama, yang akan diletakkan pada jarak 6 sampai 8 km dari garis pantai dan berdiri setinggi 7 km di atas permukaan laut.

Pembangunan dinding akan selesai pada tahun 2030, sedangkan pembangunan di pulau-pulau reklamasi baru akan dilakukan setelahnya.

Sebuah waduk besar akan dibuat antara pulau dan dinding laut, di mana air hujan dapat disimpan mengalir ke waduk tersebut sehingga tidak membanjiri kota, dan sungai-sungai akan dapat mengalir bebas.

Rencana memperlambat penurunan permukaan tanah juga dilakukan dengan menyediakan air pipa dari daerah lain dialirkan ke Jakarta untuk menghentikan penggunaan air tanah oleh warga Jakarta di dalam kota.

Sumber: The National

Comments

comments

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Only registered users can comment.